Minggu, 22 Mei 2011

Pendidkan Alternatif


Belum tuntas penanganan korupsi yang melanda negeri Indonesia tercinta ini, muncul baru bentuk kriminalitas lainnya yakni terorisme. Negara ini memang sedang dilanda krisis moral yang berkepanjangan. Terbukti indonesia sebagai peringkat tertinggi jumlah koruptor se Asia. Tidak jauh berbeda dengan koruptor yaitu kasus terorisme, indonesia termasuk salah satu negara dengan kasus teorisme terbesar di dunia. Kemudian timbul pertanyaan dasar, siapa yang paling bertanggung jawab terhadap kasus-kasus moral di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya, atau paling tidak meminimalisir angka tersebut.
Memang banyak yang harus bertanggung jawab atas terjadinya kasus-kasus tersebut, karena setiap bentuk penyelewengan moral setiap wajib untuk mencounternya. Namun ada yang paling berperan besar untuk mencounter kasus-kasus ini, itu tidak lain adalah dunia pendidikan. Pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam kaitannya dengan moral. Anak sejak lahir sudah mendapat pendidikan dengan orang tua, kemudian menginjak dewasa mendapatkan pendidikan formal di sekolah-sekolah. Belum lagi yang memperoleh pendidikan non formal, baik dari surau, pesantren dan sebagainya.
Menurut Prof. Dr. Mark R. Woordward Pakar kajian agama dari Arizona State University, Amerika Serikat, cara terbaik untuk meminimalisir gerakan radikal adalah melalui pendidikan. Mark menawarkan konsep pendidikan yang terbuka dan egaliter. Selain itu menurutnya pendidikan yang paling penting lagi adalah pendidikan agama. Pendidikan agama lebih bersifat doktriner sehingga tanpa disadari akan meresap dan menjadi cara pandang siswa dalam menentukan sikap.
Konsep pendidikan agama yang bersifat doktriner seharusnya bersifat egaliter dan memberi konsekuen. Bentuk egaliter yang direpresentikan dengan pemberian materi dan gagasan saling menghormati antar pendapat sesama. Toleransi terhadap perbedaan pemikiran sampai ras dan agama menjadi target yang harus dicapai dalam konsep pendidikan ini. Tahap penanaman toleransi ini akan menjadi akar pokok dalam mainset siswa dalam menghargai akan keniscayaan perbedaan setiap individu.
Bentuk kedua adalah memberikan konsekwensi pada siswa atau peserta didik. Bentuk ini diimplementasikan dengan memberikan konsekwensi real dalam pendidikan moral. Seperti contoh dalam bentuk sederhana ancaman neraka bagi yang berbuat jahat dan imbalan surga bagi pelaku kebajikan. penanaman konsekwensi ini mentargetkan agar muncul sikap takut untuk melakukan kejahatan.
Kedua konsep ini sudah harus diterapkan sejak usia dini, sehingga sikap egaliter dan ketakutan akan konsekuensi kejahatan sudah mengakar dan menancap kuat di benak siswa. Dari sini seorang anak akan mempertimbangkan konsekuensi yang ditimbulkan dalam setiap tingkahlakunya, selain itu mereka juga akan menghargai keunikan perbedaan antar sesame.
*Abdullah Hanif
Pemerhati pendidikan

2 komentar:

  1. wah anak-anak jaman skrg gak da yg tkut dg neraka n tertarik dg surga, karena itu smua abstrak. sesuatu akan dirasa mengena ketika itu telah menjadi pngalaman empiris bagi seorang anak. klo gtu crany gmn donk pak?

    BalasHapus
  2. itu memang abstrak, namun hal2 yg abstrak yg bersifat indoktrinasi akan lebih mengena drpda yg bersifat konkrit namun tak bersifat normatif. contoh indotrinasi abstrak seperti Tuhan, smw prcaya Tuhan itu ada walapun kita tak jumpa dgnya.

    BalasHapus