Kamis, 26 Mei 2011

Okolisme politikus dan Patriostisme PSSI
Garuda di dadaku, garuda kebanggaanku, ku yakin hari ini pasti menang, itulah sepenggal bait yang menggemparkan stadiun utama Gelora Bung Karno. Namun melihat kondisi real persepak bolaan Indonesia seoalah-olah bait itu akan mengalami reduksi menjadi garuda di ambang pintu, garuda merasa merasa malu, ku yakin okolisme pasti menang. Itulah sepenggal bait kekecewaan pecinta sepak bola Indonesia terhadap kisruh yang melanda PSSI saat ini. Terlepas dari kasus penyelewengan ketua PSSI lama terhadap peraturan FIFA yang masih bersikukuh untuk mempertahankan status quo, lagi-lagi PSSI disandung masalah terkait okolisme dan nafsuisme segilintir pihak yang ingin menguasai institusi bola resmi di negeri kita tercinta.

Masyarakat yang ingin melihat terkaman garuda terus berlanjut. Namun sangat miris melihat garuda itu menerkam temannya sendiri. Terlihat Dua kali kongres yang dilaksanakan PSSI, kedua-duanya menemui jalan buntu alias deadlock. Komite normalisasi digulirkan guna untuk menyelesaikan konflik ditubuh PSSI pun juga tak mampu mencarikan jalan keluar. Dan bahkan yang paling tragis, ketika utusan dari anggota FIFA sama sekali tidak dihormati dan terkesan dilecehkan oleh pihak tertentu. Politisasi badan persepak bolaan Indonesia ini sangat kentara, bagaimana tidak kalau mereka melihat bagaimana antusias warga Indonesia ketika Timnas Indonesia tentu tidak sepenuh hati untuk mengutamakan kepentingan individu. Yang lebih parah lagi, ahir-ahir muncul pengakuan dari salah satu pihak yang mengatakan bahwa telah dijanjikan dana yang cukup besar. Kalau sudah seperti ini, maka kita tinggal menunggu FIFA, antara hukuman terhadap PSSI atau tidak, dan hamper bias dipastikan PSSI akan mendapat sanksi.
Tindakan ini merupakan egoisme dan okolisme suatu pihak yang gila nama dan gila kekuasaan. Di pihak lain masyarakat pecinta bola sudah geram dan muak terhadap carut marut konflik ini. Masyarakat benar mengutuk dan sangat menginginkan konflik ini segera terselesaikan. Apalagi konflik ini terjadi ketika persepak bolaan Indonesia sedang mengalami peningkatan kualitas, terlihat dari salah satu tim sepak bola Indonesia mampu lolos ke babak delapan besar AFC cup. Tentunya hal ini sedikit banyak mengganggu konsentrasi para pemain dalam menjalani ketatnya kompetisi.
Tindakan solutif terahir adalah tindakan tegas terhadap kelompok yang makar terhadap peraturan PSSI. Kelompok 78 yang selama ini masih kontra terhadap peraturan perlu dilakukan rokonsiliasi untuk mencari solusi, tentunya dengan mempertimbangkan kepentingan rakyat. Namun ketika masih menemukan jalan buntu juga, menpora dan pihak-pihak yang mempunyai wewenang harus menindak tegas agar persepak bolaan Indonesia kembali berjalan lancer.Okolisme dan egoism yang dibungkus politik tentu tidak akan mudah diselesaikan kecuali dengan tindakan tegas. Ditambah lagi dengan politik uang tentunya akan semakin mempersulit terpecahnya konspirasi. Bias diibaratkan batu yang dicor, konsprirasi ini seperti batu dan politisasi yang dibungkus uang seperti cor, batu sebuah benda padat yang sangat keras apalagi dicor dengan dilapisi besi-besi. Maka tidak ada cara lain kecuali membuang batu tersebut.

Selasa, 24 Mei 2011

TABAHUR KE-NU-AN

“ Cung anakku lanang, kowe iki lahir nang keluarga Nahdliyin (sebutan orang-orang NU), sok nek wes dadi wong, uripo dadi wong NU(Nahdatul Ulama) sing bener NU cekeli sing tenan iki omongane bapak,”. Statement ini pernah dituturkan oleh oleh tua penulis sekitar 15 tahun yang lalu namun sampai saat ini statement iku terus menancap dalam benak penulis, dan sampai saat ini pula muncul tanda Tanya yang sangat besar apa maksud dari urip wong NU sing bener?. Memang sejak kecil penulis hidup di keluarga Nahdliyin, dan bahkan ayahanda tercinta pernah menjabat sebagai Rois Syuriah NU di desa tempat penulis dan keluarga tinggal.
Kembali berbicara tentang statement orang tua penulis tersebut di atas, setelah selang 15 tahun kemudian penulis merasa ada sebuah titik terang atas pangendikane bapak. Pencerahan ini merupakan refleksi dari gagasan, konsepsi dan formulasi yang penulis peroleh dari berdiskusi, membaca artikel dan sebagainya mengenai NU, yang notabene sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia.
Dalam kehidupan saat ini sering terjadi tindak kriminalitas yang mengatasnamakan agama. Pembakaran masjid, intimidasi, dan pelanggaran hak sering dilakukan terhadap kaum minoritas yang dianggap menodai Islam karena berbeda dengan mayoritas. Dan bahkan lebih miris lagi tindakan ini dilakukan oleh sebuah ormas Islam sendiri. NU sebagai ormas yang lahir sejak tahun 1926 dan dicetuskan oleh sesepuh kyai Jawa, sangat mengutuk tindak kriminalitas seperti ini. Toleransi (tasamuh) dan egaliter merupakan pondasi awal bagi kaum nahdliyin dalam menanggapi setiap perbedaan. Setidaknya ada 3 sikap yang dipegang teguh oleh kaum nahdliyin dalam bertindak untuk menghadapi sebuah perbedaan. Pertama, sikap terhadap agama lain. Pada prinsipnya kaum nahdliyin berpegang pada firman allah:لكم دينكم ولي الدين (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Seorang muslim tidak dilarang bergaul dengan non muslim namun tidak dalam hal aqidah. Kedua, sikap terhadap perbedaan di internal Islam. Sesuai dengan firman Allah : لنا أعمالنا و لكم أعمالكم . dari sini bentuk toleransi digulirkan, dengan alasan lain perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan dan itu juga sebagai rohmah. Oleh karena itu dalam dunia NU tidak mengenal namanya Bid’ah sayi’ah. Semua kegiatan yang dilaksanakan hal itu merupakan bid’ah hasanah selama tidak menjerumus ke dalam kemusrikan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Zuhairi Misrawi, terlepas dari subyektivitas, belum pernah ditemukan tindak criminal yang dilakukan oleh kaum nahdliyin. Tercatat di sana ormas yang banyak melakukan kriminalitas dan pelanggaran HAM adalah FPI. Perbuatan kekerasan atau kriminalitas merupakan tindakan yang melanggar hokum dan seharusnya dipidanakan. Terkait penodaan agama, Cak Nun, mengatakan bahwa kita tidak memiliki kekuatan apapun untuk membela Islam dan bahkan kita masuk islam itu untuk mendapatkan perlidungan dari islam. Walaupun beliau juga tidak sepakat pula terhadap, misalnya, Ahmadiyah.
Kembali kepada pendalaman intisari NU, dalam ranah etika NU sangat proporsional dalam bersikap pada semua pihak. Bagaimana ajaran NU mengajarkan ta’dzim kepada orang yang lebih tua apalagi terhadap orang yang berilmu. Konsep barokah dan laduni walaupun sulit diteliti secara ilmiah namun ini real terjadi, konsep seperti ini merupakan dampak dari proporsionalitas dan keta’dziman.
Selain itu, NU juga mengajarkan fleksibelitas dalam hal fiqh. Bagaimana adanya qaul jaded dan qaul qodim sebagai representasi atas fleksibelitas tersebut. Fleksibelitas NU juga ditandai dengan pemikiran kaum nahdliyin yang selalu muwafiqun lizaman, sesuai dengan kaidah ushul fiqh yang menyatakan, melestarikan hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang dianggap lebih baik. Dengan kata lain, NU selalu mengedepankan perkembangan zaman tanpa melupakan budaya local yang sangat dihargai. Konsep seperti ini pun sesuai dengan tembung jowo deso mowo coro. (dimana bumi berpijak di situ langit dijunjung).

Minggu, 22 Mei 2011

Refleksi budoyo


Malam jum’at tumrape bocah-bocah deso dadi bengi sing paling nyenengke ati. Awit ngopo dino iku bocah-bocah deso libur anggone ngaji rampunge barzanji age-age wae langsung iso dolenan. Wengi iku Aku (Hanif), Edi, Taufik, Laela lan konco-konco ngaji liyane wes duwe janji sak rampunge sekolah mengko bengi arep obak sodor (dolanan reguan sing gunakne kotak) lan gomberan (dolanan nglebokne kreweng sing ora iso nglebokne diukum). “ayo mengko bengi rampunge barzanji ayo podo yo, enake obak po yo?” ajakku neng konco-koncoku. “ayo bal-balan wae yo??”, nuture Taufik. “Ojo leh yen bal-balan iku tumrape cah lanang tok, lha aku lan konco-konco wedok liyane piye?” Jawab Laela. “yo wes, dolanan obak gomberan lan sodhor wae”. tuture Edi.  “setuju”. Jawab konco-konco serempak.
            Bengi iku cuacane cerah lan padhang bulan, lapangan sing biasane dienggo dolanan yo wes diresiki. Konco-konco jam enem sore menyang maring masjid tumrape sholat jama’ah maghrib. Rampung sholat maghrib wes dadi adat desoku nganakne barzanji (naskah sing isine cerito-cerito Nabi Muhammad SAW). Lanang lan wadon, cilik lan gedhe, nom lan tuwo tumplek blek sholawatan bareng, tumrape bocah wedok sing iseh nom duweni tugas tambahan gawe ngombenan lan cemilan kanggo jama’ah barzanji. Acara iki koyo biyasane rumpung jam setengah songo lan dipungkasi kaliyan dongo sing dipimpin langsung sesepuh deso lan sholat jama’ah isya’.
            “Ayo obak”. Ngajakku neng konco-konco, “Ayoo...”. konco-konco njawab bareng-bareng. Aku lan konco-konco menyang maring lapangan sing ono neng sampinge masjid. Laela duwe tugas garisi panggonan sing arep dienggo sodhor, Taufik sing nyiapne kreweng (pecahane genteng) kanggo gomberan, lan tugasku mbagi klompok sodhor. Saking akehe santri ning mesjid dadi obake dibagi loro, sodhor lan gomberan. Konco-konco dolanan kanti bungah, guyonan tur cekakaan iso dirungokne naliko bengi iku. Saking bungahe dolanan nganti ora iling wektu ngerti-ngerti wes jam rolas bengi.
            Nanging dolanan lan bungah saben malem jum’at koyo ngono iku saiki wes ora iso diweruhi maneh. Dolanan iku wes diganti PS sing ngentekno duit tur ngilangi wektu sinau. Budoyo-budoyo tradisional wes mulai ilang ditilep mongso sing diarani mongso modern. Sak mestine anak-anak Indonesia iki kudu bangga karo budoyone dewe, malah saiki kuwalik bangga budoyo liyo lali budoyo dewe, ibarate kacang lali lanjarane.



Pendidkan Alternatif


Belum tuntas penanganan korupsi yang melanda negeri Indonesia tercinta ini, muncul baru bentuk kriminalitas lainnya yakni terorisme. Negara ini memang sedang dilanda krisis moral yang berkepanjangan. Terbukti indonesia sebagai peringkat tertinggi jumlah koruptor se Asia. Tidak jauh berbeda dengan koruptor yaitu kasus terorisme, indonesia termasuk salah satu negara dengan kasus teorisme terbesar di dunia. Kemudian timbul pertanyaan dasar, siapa yang paling bertanggung jawab terhadap kasus-kasus moral di Indonesia dan bagaimana cara mengatasinya, atau paling tidak meminimalisir angka tersebut.
Memang banyak yang harus bertanggung jawab atas terjadinya kasus-kasus tersebut, karena setiap bentuk penyelewengan moral setiap wajib untuk mencounternya. Namun ada yang paling berperan besar untuk mencounter kasus-kasus ini, itu tidak lain adalah dunia pendidikan. Pendidikan mempunyai peran yang sangat vital dalam kaitannya dengan moral. Anak sejak lahir sudah mendapat pendidikan dengan orang tua, kemudian menginjak dewasa mendapatkan pendidikan formal di sekolah-sekolah. Belum lagi yang memperoleh pendidikan non formal, baik dari surau, pesantren dan sebagainya.
Menurut Prof. Dr. Mark R. Woordward Pakar kajian agama dari Arizona State University, Amerika Serikat, cara terbaik untuk meminimalisir gerakan radikal adalah melalui pendidikan. Mark menawarkan konsep pendidikan yang terbuka dan egaliter. Selain itu menurutnya pendidikan yang paling penting lagi adalah pendidikan agama. Pendidikan agama lebih bersifat doktriner sehingga tanpa disadari akan meresap dan menjadi cara pandang siswa dalam menentukan sikap.
Konsep pendidikan agama yang bersifat doktriner seharusnya bersifat egaliter dan memberi konsekuen. Bentuk egaliter yang direpresentikan dengan pemberian materi dan gagasan saling menghormati antar pendapat sesama. Toleransi terhadap perbedaan pemikiran sampai ras dan agama menjadi target yang harus dicapai dalam konsep pendidikan ini. Tahap penanaman toleransi ini akan menjadi akar pokok dalam mainset siswa dalam menghargai akan keniscayaan perbedaan setiap individu.
Bentuk kedua adalah memberikan konsekwensi pada siswa atau peserta didik. Bentuk ini diimplementasikan dengan memberikan konsekwensi real dalam pendidikan moral. Seperti contoh dalam bentuk sederhana ancaman neraka bagi yang berbuat jahat dan imbalan surga bagi pelaku kebajikan. penanaman konsekwensi ini mentargetkan agar muncul sikap takut untuk melakukan kejahatan.
Kedua konsep ini sudah harus diterapkan sejak usia dini, sehingga sikap egaliter dan ketakutan akan konsekuensi kejahatan sudah mengakar dan menancap kuat di benak siswa. Dari sini seorang anak akan mempertimbangkan konsekuensi yang ditimbulkan dalam setiap tingkahlakunya, selain itu mereka juga akan menghargai keunikan perbedaan antar sesame.
*Abdullah Hanif
Pemerhati pendidikan

Jumat, 20 Mei 2011

urgensi kretivitas

Guru kreatif adalah guru yang selalu memandang bahwa keragaman siswa adalah sebuah potensi besar yang harus dikembangkan di sekolah sedangkan guru yang kurang kreatif adalah guru yang selalu mengedepankan keseragaman siswa
Dalam kehidupan ini kreativitas sangat penting, karena kreativitas merupakan suatu kemampuan yang sangat berarti dalam proses kehidupan manusia. Treffinger (dalam Reni Akbar Hawadi, dkk, 2001:13) mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kreativitas. Mengapa kreativitas penting dalam kehidupan ini? Ada beberapa nilai penting kreativitas dalam kehidupan secara nyata sebagai berikut:
1. Adanya kemampuan untuk melahirkan sesuatu yang baru yang berupa pikiran maupun karya nyata dalam mengerjakan persoalan hidup bagi orang kreatif. Dengan kreatifnya seseorang dapat melakukan pendekatan secara bervariasi dan memiliki bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu persoalan. Dari potensi kreatifnya, seseorang dapat menunjukkan hasil perbuatan, kinerja/karya, baik dalam bentuk barang maupun gagasan secara bermakna dan berkualitas.
2. Tingkat kualitas dari kinerja, karya, gagasan, dan perbuatan manusia dapat diantisipasi dari sejauh mana seseorang memiliki tingkat kreativitas tertentu.
3. Suatu karya kreatif sebagai hasil kreativitas seseorang dapat menimbulkan kepuasan pribadi yang tak terhingga nilainya. Kreativitas penting untuk mengembangkan semua bakat dan kemampuan individu dalam pengembangan prestasi hidupnya.
4. Dengan kreativitas tinggi yang dimiliki seseorang maka seseorang tersebut akan mempunyai pengembangan diri secara optimal. Mereka dapat mempergunakan ide-idenya untuk menciptakan kreasi baru demi kelangsungan hidup.
5. Kreativitas penting untuk dipahami bagi para pendidik (guru) terutama dalam kaitannya dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pengajar dalam membimbing dan “mengantarkan” anak didik kepada pertumbuhan dan perkembangan prestasinya secara optimal.
6. Peningkatan Sumber Daya Manusia dalam era globalisasi dan era reformasi menunjukkan betapa pentingnya segi kreativitas diprioritaskan untuk dikelola dan dikembangkan secara optimal. Dan hal ini merupakan tantangan kepedulian serius bagi pihak terkait dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, terutama dikalangan pendidikan.
7. Akan lebih bermakna dalam tugas perkembangannya bagi para pelajar, apabila pengelolaan, pengembangan dan peningkatan kreativitas mencakup potensi akademik dan non akademik. Dengan itu, potensi-potensi kreatif siswa akan dapat tersalur dan teraktualisasi secara optimal.
8. Kreativitas penting dalam proses belajar mengajar, terutama bagi guru. Guru diperlukan kemampuan untuk menciptakan suasana yang menyenangkan dan kondusif agar siswa terangsang untuk lebih ingin mengetahui materi, senang menanyakan, dan berani mengajukan pendapat, serta melakukan percobaan yang menuntut pengalaman baru. Hal ini penting bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar dengan harapan agar siwa mendapat kesempatan untuk mengukir prestasi secara optimal.
9. Kreatif sebagai operasionalisasi dari konsep kreativitas yang mempunyai nilai penting dalam kehidupan individu. Conny R. Semiawan (dalam Reni Akbar hawadi, dkk, 2001:15) menyatakan ada empat alasan penting mengapa seseorang perlu belajar kreatif, antara lain:
a. Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil guna jika kita (orang tua/guru) tidak bersama mereka.
b. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah yang tidak mampu kita duga yang akan timbul di masa depan.
c. Belajar kreatif menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan seseorang, dapat mempengaruhi, bahkan dapat mengubah karir pribadi serta dapat menunjang kesehatan jiwa dan badan seseorang.
d. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Secara lebih luas, belajar kreatif dapat menimbulkan terciptanya ide-ide baru, cara-cara baru, dan hasil-hasil yang baru.